Nontoners.com – Pada 27 November 1998, tepat 20 tahun yang lalu, film Kuldesak pertama kali dirilis di 3 layar bioskop di Jakarta, kemudian bertambah masing-masing 1
layar di kota Bandung, Jogjakarta dan Surabaya. Hanya di 6 layar bioskop Kuldesak disambut meriah dan menghasilkan lebih dari 100.000 penonton, angka yang fenomenal untuk jumlah layar yang begitu minim. Dibuat hampir 3 tahun lamanya secara bergerilya dari 1995 hingga 1998, Kuldesak disebut sebagai penanda era baru perfilman Indonesia oleh para pengamat film, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kuldesak dikerjakan secara gotong royong dengan mengerahkan jejaring pertemanan yang dimiliki empat sutradaranya, mulai dari asisten produser, aktor dan aktris, penata kamera, penata artistik, editor, penata suara, dlsb.
Dengan keras kepala dan diselingi spontanitas, Kuldesak dijadikan siasat, seperti lokomotif’ yang menarik gerbong-gerbong, bergerak menuju tujuan bersama: menghidupkan kembali film Indonesia yang sedang buntu saat itu.
Buku dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) 20Kuldesak: Berjejaring, Bergerak, Bersiasat, Berontak yang dikonsep dan disunting oleh Mirwan Andan, berisi foto-foto dokumentasi cuplikan adegan dan jepretan di balik layar hingga hasil pindaian tumpukan dokumen sepanjang penggagasan, pembuatan dan penyebaran film Kuldesak. Teks pendampingnya berupa tulisan-tulisan yang terbit di berbagai media massa cetak sekitar 1997 dan 1998, antara lain artikel-artikel yang ditulis Leila S. Chudori, J.B. Kristanto,
dan Tam Notosusanto, juga disertai tulisan dan wawancara para pemerhati film Indonesia, seperti jurnalis Angga Rulianto dan kritikus serta konsultan program film asal Singapura Phillip Cheah. Dua tulisan panjang membahas Kuldesak secara teoritis yang pernah terbit di Jerman dan Inggris karya dua Indonesianis asal Amerika Serikat, Dahlia Gratia Setiyawan dan Dag Yngvesson, turut melengkapi buku ini.
Selain itu, dihadirkan juga tulisan kontribusi empat penulis dari latar belakang berbeda, membahas empat etos kerja yang berlaku dalam produksi Kuldesak yang menjadi anak judul buku ini, mereka adalah: Neng Dara Affiah (aktivis perempuan, penulis serta pengajar sosiologi di Universitas Nahdlatul Ulama dan UIN Syarif Hidayatullah); Irma Hidayana (vokalis latar band Efek Rumah Kaca, salah satu pendiri inibudi.org dan kandidat doktor ilmu kesehatan masyarakat di Columbia University, AS), Nirwan Ahmad Arsuka (penulis dan inisiator sekaligus penanggung jawab platform gerakan literasi Pustaka
Bergerak dengan sekitar 2.000 simpul dan 15.000 relawan di seluruh Indonesia), dan Azhari Aiyub (sastrawan penulis novel Kura-Kura Berjanggut, pendiri Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh dan penerima Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2018 dan Free Word Award dari Poets of All Nations pada 2005).
Acara peringatan 20 tahun film Kuldesak ini tidak hanya ditandai dengan peluncuran
buku, namun juga menyajikan Pameran Sehari Arsip Kuldesak serta pemutaran film
Kuldesak dengan file hasil digitasi dari materi film print 35mm. Kuldesak merupakan
omnibus yang terdiri dari empat segmen cerita yang dijahit jadi satu, masing-masing
ditulis dan disutradarai oleh Mira Lesmana, Nan Achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani. Ceritanya memfokuskan diri pada empat tokoh anak muda yang dihadapkan pada beberapa masalah yang berbeda-beda di kota metropolitan Jakarta pada pertengahan 1990an.
Khusus pemutaran film Kuldesak akan dapat dinikmati lebih banyak penonton
pada 30 Desember 2018 nanti, hanya satu hari dan hanya satu kali penayangan, di 9 kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang dan Padang.
Keseluruhan acara ini didukung oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), jaringan bioskop 21 (Cinema XXI), dan rumah produksi MILES FILMS.

LEAVE A REPLY