Nontoners.com – San Francisco — Before The Flood, film dokumenter baru yang diproduksi dan dibintangi aktor dan aktivis Leonardo DiCaprio tayang perdana di Los Angeles beberapa hari yang lalu dan akan disiarkan secara global dalam 45 bahasa di 171 negara melalui kanal National Geographic pada 30 Oktober, lebih awal dari pemilu A.S di bulan November. Film ini menyoroti kerusakan hutan yang berperan penting sebagai penyebab polusi karbon pada atmosfer bumi dan menyoroti bagaimana perluasan masif industri perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara menjadi pusat penyebab krisis tersebut. Film ini disutradarai oleh Fisher Stevens yang juga menjadi pemenang Oscar seperti DiCaprio.

Aerial of good forest inside Singkil Swamp Nature Reserve near to Desa Panji, Longkip District. Sout of Aceh. Lat 2° 35' 6.198" N Long 97° 49' 29.232" E
Foto aerial kondisi hutan yang masih terjaga di kawasan Ekosistem Leuser, Cagar Alam Rawa Singkil dekat Desa Panji, Kecamatan Longkip, Aceh Selatan. Foto oleh: Nanang Sujana/RAN

Film ini mendokumentasikan kunjungan DiCaprio ke kawasan Ekosistem Leuser di Aceh, Indonesia, dimana tingkat pembukaan hutan yang sangat tinggi telah memperburuk masalah perubahan iklim. Indonesia saat ini menjadi salah satu emiter karbon terbesar dunia, deforestasi besar-besaran di wilayah ini menjadi penyebab utamanya. “Before The Flood” yang difilmkan pada akhir 2015, mencatat kebakaran akibat ulah manusia di Indonesia menghasilkan polusi karbon lebih tinggi dari jumlah karbon yang dihasilkan oleh rata-rata seluruh aktivitas ekonomi A.S per hari. Kebakaran ilegal ini terjadi setiap tahun dan digunakan sebagai metode pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Lebih dari seminggu yang lalu, pemerintah Indonesia mengumumkan keadaan darurat nasional akibat dampak buruk yang disebabkan oleh kebakaran diluar kendali.

Foto aerial konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit didalam area Ekosistem Leuser, Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Aceh Selatan. Foto oleh: Nanang Sujana/RAN
Foto aerial konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit didalam area Ekosistem Leuser, Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Aceh Selatan. Foto oleh: Nanang Sujana/RAN

“Film penting ini menarik banyak perhatian yang diperlukan terhadap kehancuran hutan untuk kelapa sawit, yang menjadi pendorong terbesar perubahan iklim. Kita harus lebih agresif mengatasi krisis deforestasi di daerah-daerah seperti Ekosistem Leuser Indonesia,” ungkap Lindsey Allen, Direktur Eksekutif Rainforest Action Network. “Kelapa sawit terdapat pada setengah dari seluruh produk kemasan di toko, kini semua tergantung pada keinginan kita untuk menuntut merek global besar seperti PepsiCo untuk melakukan hal yang benar dengan memutuskan hubungan produk mereka dari kerusakan hutan tropis.”

Foto aerial konversi hutan gambut ilegal untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit di kawasan Ekosistem Leuser, Cagar Alam Rawa Singkil, Desa Lemeudama, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan Foto oleh: Nanang Sujana/RAN
Foto aerial konversi hutan gambut ilegal untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit di kawasan Ekosistem Leuser, Cagar Alam Rawa Singkil, Desa Lemeudama, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan Foto oleh: Nanang Sujana/RAN

DiCaprio bertemu dengan Allen pada Konferensi Perubahan Iklim Paris tahun 2015 (COP21) untuk berdiskusi mengenai situasi rawan yang dihadapi oleh Ekosistem Leuser dan keterkaitan penting antara deforestasi dan emisi karbon global.

Menindaklanjuti percakapannya dengan Allen, perjalanan DiCaprio ke Ekosistem Leuser menggemparkan dunia internasional ketika pemerintah Indonesia dengan tegas mengancamnya dengan deportasi setelah postingan mengenai deforestasi dan kerusakan yang disebabkan oleh ekspansi kelapa sawit di media sosial miliknya menarik banyak perhatian. Yayasan Leonardo DiCaprio kemudian berkomitmen selama tiga tahun untuk menjadi penyandang dana utama dalam membantu upaya lokal dan internasional menyelamatkan Ekosistem Leuser.

LEAVE A REPLY