Gambar bisa saja memiliki hak cipta

Nontoners.com – Pak Archewe (Marcelino Lefrandt), Bu Suk (Iis Dahlia), dan Mas Okis (Tarra Budiman), bersekongkol untuk membuat Kulin (Ari Irham), 17 tahun, agar mau keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain. Sebelumnya Kulin memilih bersembunyi di rumah karena begitu frustasi terhadap reaksi berlebihan dari orang-orang yang ia temui. Usaha ketiganya kemudian membuahkan hasil saat Mas Kulin menyerah dan setuju untuk mendaftar di sekolah umum khusus laki-laki.

SMA Horridson, sekolah khusus yang dipilih Kulin ternyata tak sewajar bayangannya. Pada hari pertamanya, Kulin diculik ketua preman di sekolah, Sidi. Kulin diberi tugas untuk mengajak SMA BBM, sekolah khusus perempuan, melakukan Prom Night gabungan. Namun karena hal ini pula lah ia berkenalan dengan Kibo (Calvin Jeremy).

Gambar bisa saja memiliki hak cipta

Namun misi Kulin dan Kibo menyerahkan proposal Prom Night justru membuat kekacauan di SMA BBM. Kejadian ini diliput beberapa stasiun televisi dan membuat keberadaan Kulin terkuak. Panik dan merasa terancam, Kulin melarikan diri ke atap gedung. Di sana Kulin kemudian bertemu dengan Rere (Rachel Amanda), seorang gadis yang tak menganggap sosok Kulin sebagai seseorang yang istimewa. Kulin jatuh cinta seketika dengan Rere.

Tak ingin pulang ke rumah, Kulin meminta tolong pada Kibo agar membolehkannya menginap. Sementara Pak Archewe, Bu Suk, dan Mas Okis, malah mengadakan home tour bagi penggemar Kulin.

Gambar bisa saja memiliki hak cipta

Berhasilkah Kulin menjalani kehidupan dengan normal?

Menanti live action pertama di Indonesia dari serial Webtoon paling terkenal pada 2017 tentu saja membuat saya penasaran sekaligus bersemangat. “Akan seperti apa komik absurd itu terwujud kemudian?” adalah pertanyaan yang paling melekat di pikiran saya.

Film ini cukup istimewa di mata saya dengan caranya sendiri. Saya suka dialog antar tokohnya karena terdengar normal dan tidak lebay, saya juga suka pemilihan kostum oleh tim wardrobe, saya suka setting rumah yang terasa hangat, saya suka keriuhan siswa sekolah laki-laki yang begitu berantakan. Begitu banyak hal-hal normal dan sederhana yang saya suka dari film ini.

Saya juga perlu mengapresiasi keputusan tim yang mengajak Tretan Muslim sebagai konsultan komedi. Meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki dari sisi komedi agar terasa lebih nendang, tapi setidaknya celetukan-celetukan yang terselip antar dialog tak terdengar garing dan jayus.

Gambar bisa saja memiliki hak cipta

Namun begitu ada juga bagian yang agak mengganjal bagi saya. Misalnya scene saat Kibo memberi Rere yang tak suka keramaian, untuk menggunakan sebelah earphonenya. Scene ini pernah muncul di beberapa film luar dan saya rasa wajar saja sebenarnya jika Sabrina memutuskan untuk ikut menyematkannya. Tapi entah mengapa saya merasa bahwa adegan ini terlihat masih cukup kasar. Apakah ini ada hubungannya dengan chemistry yang belum terbangun dengan kuat? Entahlah.

LEAVE A REPLY